Hadis Ke-29 Kitab Arbain Nawawi : Kunci Masuk Surga dan Menjauhi Neraka
Ahad pagi, 10 Agustus 2025, Mushalla Baiturrahman Tuku Sawahluar Kotakusuma kembali dipenuhi jamaah yang haus akan ilmu. Pada kesempatan tersebut, penulis memulai kajian dengan mengajak hadirin untuk bersama-sama bersyukur kepada Allah SWT. Bulan ini adalah bulan Agustus, bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia karena menjadi simbol kemerdekaan yang Allah anugerahkan. Hingga detik ini, nikmat kemerdekaan masih kita rasakan; kita dapat beribadah dengan damai, belajar dengan tenang, dan hidup dalam suasana aman.
Penulis mengajak jamaah untuk merenung: lihatlah di layar televisi atau media sosial, betapa banyak negeri yang dilanda konflik. Di sana, penduduknya sulit beribadah dengan khusyuk, apalagi menuntut ilmu dengan tenang. Mereka sering terhimpit dalam suasana takut, penuh ancaman, dan bahkan berdakwah pun harus diiringi dengan senjata. Betapa besar nikmat kita di Indonesia, di mana para kiai membimbing umat dengan kelembutan, memberi nasihat dengan hikmah, dan lebih mengedepankan saling memaafkan daripada berseteru. Konflik yang terjadi di tengah kita pun, insyaAllah, hanya sebatas di lisan dan dapat selesai dengan saling memaafkan.
Hadis yang dikaji pada pertemuan kali ini adalah hadis ke-29 dalam Kitab Arbain Nawawi, yang diriwayatkan oleh sahabat mulia Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat yang dikenal cerdas dan berilmu, namun juga pernah ditegur Rasulullah SAW karena membaca surat yang terlalu panjang saat menjadi imam shalat. Teguran itu menjadi pelajaran berharga bahwa agama ini harus dijalankan dengan penuh hikmah, tidak memberatkan umat, dan justru memudahkan mereka.
Dalam hadis ini, Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan yang dapat memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka. Nabi SAW menjawab:
“Sungguh, engkau bertanya tentang perkara yang besar, tetapi sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi orang yang Allah mudahkan atasnya…”
Kalimat ini mengandung hikmah yang sangat dalam. Amalan menuju surga memang berat jika dilihat dari besarnya tanggung jawab dan konsistensi yang dibutuhkan. Namun, ketika Allah memberikan taufik dan kemudahan, maka segala sesuatu yang berat akan terasa ringan. Inilah rahasia besar dalam beribadah: memohon kemudahan dari Allah SWT.
Nabi SAW kemudian menyebutkan rukun Islam: beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah. Setelah itu, beliau menjelaskan “pintu-pintu kebaikan” seperti puasa yang menjadi perisai, sedekah yang memadamkan dosa, dan shalat malam yang mengangkat derajat hamba di sisi Allah.
Tidak cukup di situ, Nabi SAW menegaskan bahwa pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad. Semua ini harus dijaga dengan satu hal yang sering diremehkan manusia: lisan. Rasulullah SAW memperingatkan bahwa banyak orang yang tergelincir ke dalam neraka bukan karena kekurangan ibadah fisik, tetapi karena tidak menjaga ucapan.
Dalam sejarah para sahabat, ada kisah menakjubkan yang menggambarkan makna “mudah bagi orang yang Allah mudahkan atasnya”. Salah satunya adalah kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sosok yang ringan melaksanakan ketaatan, bahkan amalan yang bagi kebanyakan orang terasa berat. Saat Nabi SAW bertanya siapa yang hari ini berpuasa, menyalatkan jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit — Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Semua itu beliau lakukan dalam satu hari, dengan hati yang lapang. Inilah buah dari hati yang dipenuhi keikhlasan dan dibimbing oleh taufik Allah.
Demikian pula dengan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang meskipun awalnya keras dan menentang Islam, setelah Allah bukakan pintu hidayah, beliau menjadi pejuang yang gigih, sangat ringan menjalankan perintah Allah, dan bahkan siap berkorban nyawa demi agama.
Hadis ke-29 ini mengajarkan bahwa jalan menuju surga tidak lepas dari rukun Islam, pintu-pintu kebaikan, menjaga pokok agama, dan mengendalikan lisan. Semua itu akan terasa mudah bila kita memohon kemudahan dari Allah, sebagaimana para sahabat Nabi SAW yang senantiasa diberi kekuatan dan kelapangan hati dalam beramal.
Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita untuk istiqamah di jalan-Nya, memudahkan setiap ibadah yang kita lakukan, dan menjaga lisan kita dari hal-hal yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Posting Komentar untuk "Hadis Ke-29 Kitab Arbain Nawawi : Kunci Masuk Surga dan Menjauhi Neraka"