Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asal Usul Shalawat Nahdliyah Dan Penciptanya

KH Hasan Abdul Wafi Pencipta Sholawat Nahdliyah

Shalawat An Nahdhiyah digubah oleh KH Hasan Abdul Wafi. KH Abdul Wafi lahir di Pamekasan Madura pada tahun 1923. Ia lahir dari pasangan KH. Miftahul Arifin bin Kiai Hadu dan Nyai Nyai Lathifah binti Kiai Jamaluddin ibn Kiai Ruham. Ia merupakan putera bungsu dari tujuh bersaudara. Keenam saudaraialah, KH. Ahmad Sayuti, Ny Hj. Atiyah, KH. Zainullah, KH. Masduqi, KH. Syarqowi dan KH Achmad Sufyan Miftahul Arifin.

Biografi KH Hasan Abdul Wafi, Pencipta Shalawat Nahdliyah

Sejak masih kecil, Abdul Wafi telah dididik dengan pendidikan agama secara langsung oleh ayahandanya, KH. Miftahul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nuriyah, Pamekasan. Ilmu agama yang diajarkan oleh ayahanda ialah membaca Al-Qur’an, Fiqh dan ilmu-ilmu lainnya. Disaat usia Abdul Wafi berumur 6 tahun, ia ditinggal wafat oleh ibunda tercintanya. Lima tahun kemudian, ayahandanya tercinta juga wafat. Walaupun demikian, kembalinya kedua orangtua yang sekaligus gurunya tersebut kehadirat Allah SWT, tidak menjadikan Abdul Wafi tenggelam dalam kesedihan lautan duka. Abdul Wafi tetap tegar dalam melanjutkan proses belajarnya ke Madrasah Diniyyah di Desa Branta, Tlanakan, Pamekasan.

Ia dididik oleh Sayyid Hasan bin Alwi dan kakak kandungnya sendiri, KH. Achmad Sayuti. Selain itu, Abdul Wafi juga belajar kepada KH. Achmad Faqih di Sumber Nyamplong Toronan, Pamekasan. Abdul Wafi merupakan santri yang cerdas dan kuat dalam menghafal, walaupun usianya yang masih relatif muda, namun ia sudah mampu menghafal beberapa bait kitab alfiyah.

Setelah tamat dari Madrasah Diniyyah, Abdul Wafi melanjutkan belajarnya di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Palengan, Pamekasan. Pondok pesantren yang diasuh oleh KH. Abdul Majid. Di Pesantren yang baru ini, ia dipercaya oleh Kiainya untuk membantu mengajar dan mendidik para santri yang ada di pondok pesantren. Selanjutnya, ia kemudian melanjutkan belajarnya ke tanah suci Makkah.

Ketika ia kembali ke tanah air dari tanah suci, nama Abdul Wafi kemudian diitambahi dengan nama depan Hasan, sehingga nama lengkapnya menjadi KH. Hasan Abdul Wafi. Ia bersama kakak kandungnya, KH. Sufyan Miftahul Arifin, melanjutkan proses belajarnya kepada KH. Sahlan di Pesantren yang terletak di Krian Sidoarjo. Kepada Kiai Sahlan keduanya belajar tentang tasawuf. Setelah dua tahun belajar tasawuf, ia kemudian melanjutkan proses belajarnya di Pesantren Peterongan Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Musta’in Ramli. Seolah masih terus dahaga akan ilmu, beliau kemudian melanjutkan proses belajarnya ke Pesantren Krapyak Jogjakarta yang kala itu diasuh oleh KH. Munawir.

Puncak akhirnya, Kiai Hasan Abdul Wafi memilih sebuah tempat untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah dapatkannya. Tempat itu ialah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang terletak di Kecamatan Paiton Probolinggo. Pondok tersebut menjadi pilihan terbaik bagi Kiai Hasan untuk mengamalkan ilmu sambil melanjutkan proses belajarnya kepada KH. Zaini Mun’im. Di Pesantren ini, beliau ditemani kakaknya, KH. Sufyan Miftahul Arifin yang kala itu juga nyantri sekaligus membantu Kiai Zaini mengajar dan mendidik santri-santrinya. Keputusan Kiai Hasan untuk menetap di Pesantren ini bertambah bulat ketika di usianya yang ke 35, beliau dijodohkan dengan Ny. Aisyah Zaini, puteri Kiai Zaini.

Hasil pernikahan KH Hasan Abdul Wafi dengan Ny. Aisyah Zaini dikaruniai 12 orang anak, yaitu: 1) M. Ramli (wafat di usia 9 bulan), 2) seorang perempuan (wafat di usia balita dan belum sempat diberi nama), 3) KH. Kholilurrahman, 4) Ny. Hj. Ja’faroh, 5) Ny. Hj. Hamidah, 6) Ny. Hj. Salma, 7) Ny. Hj. Latifah, 8) Ny. Hj. Nur Khotimah, 9) M. Maemun, 10) Ny. Hj. Hilmiyyah Makkiyyah, 11) Abdurrahman, dan 12) M. Amin.

KH Hasan Abdul Wafi wafat dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, tidak jauh dari komplek pemakaman para kiai pengasuh Nurul Jadid pada Rabu 31 Juli 2000.


Lirik Shalawat Nahdliyah Dan Artinya


اَللّٰÙ‡ُÙ…َّ صَÙ„ِّ عَÙ„َÙ‰ سَÙŠِّدِÙ†َا Ù…ُØ­َÙ…َّدْ صَÙ„َاةً تُرَغِّبُ ÙˆَتُÙ†َØ´ِّØ·ُ

x ÙˆَتُØ­َÙ…ِّسُ بِÙ‡َا الْجِÙ‡َادْ Ù„ِØ¥ِØ­ْÙŠَاءْ، ÙˆَØ¥ِعْÙ„َاءِ دِÙŠْÙ†ِ الْØ¥ِسْÙ„َامْ 2

x ÙˆَØ¥ِظْÙ‡َارِ Ø´َعَائِرِÙ‡ْ عَÙ„َÙ‰ Ø·َرِÙŠْÙ‚َØ©ِ، جَÙ…ْعِÙŠَّØ©ِ Ù†َÙ‡ْضَØ©ِ الْعُÙ„َÙ…َاءْ 2

x 2 ÙˆَعَÙ„َÙ‰ آÙ„ِÙ‡ِ ÙˆَصَØ­ْبِÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„ِّÙ…ْ

اَللّٰÙ‡ْ اَللّٰÙ‡ْ اَللّٰÙ‡ُ اَللّٰÙ‡ْ Ø«َبِّتْ Ùˆَانْصُرْ Ø£َÙ‡ْÙ„َ جَÙ…ْعِÙŠَّØ©ْ

x جَÙ…ْعِÙŠَّØ©ْ Ù†َÙ‡ْضَØ©ِ الْعُÙ„َÙ…َاءْ، Ù„ِØ¥ِعْÙ„َاءِ ÙƒَÙ„ِÙ…َØ©ِ اللّٰÙ‡ْ 2

 

Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Sholatan Turogghibu Wa Tunassyitu,

Wa Tuchammisu Bihal Jihada Li Ihya’i Wa I’lai Dinil Islami,

 Wa Idzhari Sya’airih ‘Ala Thoriqoti Jam’iyyati Nahdlotil ‘Ulama,

Wa ‘Ala Alihi Wa Shohbihi Wa Sallim,

Alloh, Alloh, Allohu, Alloh, Tsabbit Wanshur Ahla Jam’iyyah,

Jam’iyyah Nahdlotil ‘Ulama, Li I’lai Kalimatillah.


“Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini, jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syi’ar-syi’arnya menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)“


Isi dan Kandungan Shalawat Nahdliyah

Isi dari sholawat Nahldliyyah berupa sisipan doa-doa untuk siapa pun yang membacanya, dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam, serta menampakkan syiar-syiar Islam dalam bingkai Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Di dalam sholawat Nahldliyyah dicantumkan pula do’a kemenangan NU dan Islam.

KH Hasan Abdul Wafi menciptakan shalawat nahdliyah sebagai ungkapan rasa cintanya terhadap NU. Sebab, dalam shalawat nahdliyah, kalimat yang dilantunkan tidak hanya mendoakan Rasulullah SAW, tapi juga memohon rahmat dan kemenangan bagi keluarga besar NU. Awalnya, shalawat nahdliyah menjadi ‘wiridan’ yang biasa dibaca oleh keluarga KH Hasan Abdul Wafi. Kemudian shalawat ini diperkenalkan kepada NU cabang setempat, bahkan berlanjut hingga ke Pengurus Cabang NU di Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.

Posting Komentar untuk "Asal Usul Shalawat Nahdliyah Dan Penciptanya"